ramuju
ramuju sr
ramuju delami
ramuju suprima

Kista Bartholin

Share :

Kista Bartholin

Table of Contents

Pembengkakan memuat cairan (kista) di kelenjar Bartholin yang melumasi vagina. Kista Bartholin adalah hal umum. Cairan dapat menumpuk saat pembukaan kelenjar Bartholin terkendala akibat infeksi atau cedera.

Kista Bartholin yang kecil dan tidak terinfeksi barangkali tidak terlihat kecuali kista selanjutnya tumbuh. Kalau kena infeksi, gejalanya bisa tidak nyaman dan rasa nyeri

Seringkali, penyembuhan tidak diperlukan. Jika diperlukan, pilihannya termasuk mandi air hangat, drainase bedah, dan antiinflamasi (NSAID).

Penyebab Kista Bartholin

Kista Bartholin disebabkan oleh penyumbatan terhadap saluran kelenjar Bartholin. Saat saluran tersumbat, cairan dapat tertampung di dalam saluran atau kembali masuk ke dalam kelenjar. Lama-kelamaan, hal itu dapat menyebabkan saluran atau kelenjar membengkak dan membentuk kista.

Belum diketahui secara tentu penyebab tersumbatnya saluran kelenjar Bartholin. Akan tetapi, kondisi tertentu, layaknya luka, cedera, iritasi yang berulang, dan operasi, terhadap vagina dapat meningkatkan risiko tersumbatnya kelenjar Bartholin.

Pada lebih dari satu kasus, kista Bartholin termasuk dikaitkan dengan infeksi menular seksual, yaitu gonore dan chlamydia. Selain itu, infeksi Escherichia coli termasuk sering dikaitkan dengan munculnya kista Bartholin. 

Kista Bartholin dapat terjadi terhadap semua kelompok usia. Namun, kondisi ini lebih sering terjadi terhadap wanita usia 20–30 th. yang aktif secara seksual. Kista ini jarang terjadi terhadap wanita yang sudah menopause, dikarenakan kelenjar Bartholin sudah menyusut.

Gejala Kista Bartholin

Kista Bartholin jarang menimbulkan gejala. Gejala baru dapat terlihat kecuali ukuran kista sudah lumayan besar. Namun, secara umum, sumbatan terhadap kelenjar Bartholin dapat menimbulkan tanda-tanda berupa:

  • Benjolan kecil yang tidak merasa sakit, dan umumnya terjadi hanya terhadap keliru satu bibir vagina
  • Kemerahan dan pembengkakan di segi bibir vagina
  • Perasaan tidak nyaman saat jalan, duduk, maupun berhubungan intim

Jika kista mengalami infeksi dan berkembang jadi abses, dapat terlihat lebih dari satu tanda-tanda lain, yaitu:

  • Benjolan merasa nyeri dan lunak
  • Vagina terlihat membengkak
  • Keluar nanah terhadap benjolan
  • Demam

Kapan wajib ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter kecuali timbul benjolan di kurang lebih vagina. Pemeriksaan bertujuan untuk paham penyebab benjolan dan mendeteksi sedini barangkali kecuali tersedia kondisi yang lebih serius.

Segera ke dokter kecuali benjolan timbul selagi Anda berusia lebih dari 40 tahun. Meski lumayan langka, kondisi ini dapat pertanda penyakit atau kondisi lain yang lebih serius, layaknya kanker.

Perlu diketahui bahwa kista Bartholin dapat kambuh. Lakukan pemeriksaan ke dokter kecuali tanda-tanda kista terlihat kembali biarpun sudah pernah dinyatakan sembuh.

Diagnosis Kista Bartholin

Dokter dapat lakukan bertanya jawab mengenai tanda-tanda dan riwayat kebugaran pasien. Setelah itu, dokter dapat lakukan pemeriksaan fisik, terlebih di anggota panggul dan vagina, untuk memandang kista secara langsung. Umumnya, kista hanya terjadi terhadap satu segi vagina, selagi segi lainnya tetap berukuran normal.

Jika diperlukan, dokter termasuk dapat lakukan lebih dari satu pemeriksaan penunjang selanjutnya ini:

  • Usap (swab) vagina, untuk mendeteksi infeksi menular seksual, dengan menyita dan meneliti sampel cairan dari kista atau leher rahim (serviks)
  • Biopsi, untuk mendeteksi sel-sel abnormal, termasuk sel kanker, dengan menyita sampel jaringan kelenjar Bartholin

Pengobatan Kista Bartholin

Pengobatan kista Bartholin disesuaikan dengan ukuran kista dan tanda-tanda yang muncul. Kista kecil yang tidak menimbulkan tanda-tanda umumnya tidak butuh penanganan dan dapat sembuh dengan sendirinya.

Sebaliknya, kista butuh penyembuhan lebih lanjut kecuali menimbulkan tanda-tanda atau mengalami infeksi dan berkembang jadi abses. Berikut adalah lebih dari satu metode penyembuhan yang dapat dilakukan:

1.Merendamkan diri di air hangat

Pada langkah awal, dokter dapat menyarankan pasien untuk duduk berendam di dalam air hangat setinggi panggul atau sitz bath, sepanjang 3–4 hari. Cara ini dapat mendukung meredakan nyeri dan rasa tidak nyaman di organ intim, dan terkadang dapat menangani kista yang tetap berukuran kecil.

2. Obat-obatan

Obat pereda nyeri, layaknya paracetamol, dapat dikonsumsi untuk meredakan rasa sakit. Selain itu, dokter termasuk dapat mengimbuhkan obat antibiotik untuk meredakan infeksi yang menyebabkan munculnya abses terhadap kista.

Antibiotik termasuk dapat digunakan kecuali infeksi menyebar ke kulit atau jaringan di kurang lebih abses atau saat penderita mengalami infeksi menular seksual.

3. Operasi insisi dan drainase

Wajib ditunaikan kecuali ukuran kista lumayan besar, terlebih kecuali terjadi infeksi. Operasi ditunaikan dengan menyebabkan sayatan kecil (insisi) terhadap kista sehingga cairan nanah di dalamnya dapat keluar.

4. Pemasangan kateter

Pemasangan selang dengan balon kateter ditunaikan untuk mengeluarkan cairan nanah. Untuk prosedur itu, sayatan yang di buat untuk memasukkan kateter di dalam kista. Setelah itu, balon dikembangkan untuk menjaga sehingga kateter tidak terlepas dan dapat bertahan sepanjang 2–6 minggu.

5. Marsupialisasi kista

Prosedur ini ditunaikan dengan menyebabkan sayatan terhadap kista untuk mengeluarkan cairan nanah. Setelah itu, dokter dapat menjahit ujung irisan terhadap kulit di sekitarnya sehingga kista tetap terbuka secara permanen. Marsupialisasi kista dapat dikombinasikan dengan pemasangan kateter.

6. Pengangkatan kelenjar Bartholin

Prosedur ini ditunaikan kecuali prosedur lain tidak berhasil. Operasi ditunaikan dengan mengangkat semua kelenjar Bartholin.

Selama sistem penyembuhan, perlu untuk tetap menjaga kebersihan area kista sesuai dengan arahan dokter. Sebaiknya menjauhi aktivitas seksual sepanjang sistem penyembuhan. Selain itu, menggunakan pembalut sepanjang kateter tetap terpasang, dikarenakan nanah dapat terus mengalir seiring dengan hilangnya infeksi.

Komplikasi Kista Bartholin

Komplikasi yang barangkali disebabkan oleh kista Bartholin adalah kambuhnya kista atau infeksi. Jika tidak ditangani, infeksi dapat masuk ke dalam aliran darah dan menyebar ke semua tubuh sehingga menyebabkan sepsis. Meski begitu, kondisi ini jarang terjadi.

Pencegahan Kista Bartholin

Mengingat penyebabnya belum diketahui secara pasti, kista Bartholin sukar untuk dicegah. Akan tetapi, tersedia lebih dari satu cara yang dapat ditunaikan untuk menurunkan risiko terjadinya abses atau infeksi terhadap kista, yaitu:

  • Menjaga kebersihan organ wanita, dan membiasakan untuk membersihkan organ dari arah depan ke belakang.
  • Hindari Mengenakan busana dalam dan celana yang terlampau ketat atau berbahan kasar.
  • Gunakan kondom selagi berhubungan intim untuk mencegah infeksi menular seksual.

2 Comments

Komentar telah ditutup.